Perkembangan industri makanan dan minuman menuntut para pelaku usaha untuk terus beradaptasi dengan perubahan pasar. Salah satu strategi yang kini mulai banyak diambil adalah pergeseran model bisnis dari penjualan langsung ke konsumen menjadi penyedia pasokan antarbisnis atau business to business (B2B). Langkah strategis inilah yang diambil oleh Manaree Bakery, sebuah usaha bakery yang telah beroperasi di Jakarta sejak tahun 2011.
Perjalanan bisnis ini mengalami titik balik yang signifikan pada tahun 2018 setelah melakukan kolaborasi produk bersama Umi Pipik, seorang ustadzah yang cukup populer di indonesia. Momentum tersebut mendorong sang pemilik, Ibu Ayang Agus, untuk mengalihkan fokus operasional dari toko retail mandiri menjadi production kitchen berskala B2B. Melalui sistem kemitraan white label, perusahaan memproduksi aneka kue dan roti yang kemudian dikemas ulang oleh mitra menggunakan merek dagang mereka sendiri untuk dijual kembali ke pasar.
Solusi Daya Tahan Lewat Inovasi Frozen Brownies
Salah satu lini produk andalan yang lahir dari dapur produksi Manaree Bakery adalah frozen brownies. Pengembangan produk ini didasari oleh kebutuhan pasar akan kudapan yang memiliki daya simpan lama untuk kebutuhan perjalanan jauh maupun oleh-oleh keluar kota dan luar negeri. Karakteristik cokelat yang sensitif terhadap bau dan rasa di lingkungan sekitarnya menjadi tantangan utama yang berhasil disiasati lewat inovasi ini.
Berbeda dengan brownies panggang atau kukus konvensional di Indonesia yang umumnya hanya bertahan maksimal satu minggu, produk frozen brownies ini dirancang dengan formula khusus yang mampu bertahan hingga berbulan-bulan di dalam media pembeku. Proteksi kualitas rasa dan kelembapan adonan dilakukan dengan mengaplikasikan kemasan aluminum foil secara rapat pada bagian luar produk sebelum dimasukkan ke dalam kotak kemasan.
“Frozen brownies sendiri adalah brownies yang kami kemas untuk menjaga kelembapannya, kemudian untuk menjaga cokelatnya. Karena cokelat itu menyerap bau dan rasa dari objek di sekitarnya. Kami menghindari hal tersebut dengan menggunakan aluminum foil sebagai kemasan luar,” kata Ibu Ayang Agus saat menjelaskan aspek teknis pengemasan produknya.
Secara karakteristik tekstur, produk ini mengadopsi gaya American style yang memiliki pori-pori adonan sangat rapat dan padat. Kandungan cokelat murni di dalamnya mencapai persentase 80 persen, sehingga tidak menyisakan ruang udara atau tekstur berongga seperti kue bolu cokelat biasa pada umumnya.
Tiga Metode Konsumsi dan Penyegaran Identitas Visual
Keunikan lain dari produk frozen brownies buatan Ibu Ayang Agus ini terletak pada fleksibilitas cara menikmatinya yang terbagi menjadi tiga metode konsumsi. Pengunjung dapat menyantapnya langsung dalam kondisi beku dari freezer untuk mendapatkan tekstur padat menyerupai permen cokelat. Jika didiamkan pada suhu ruang, teksturnya akan berubah menjadi lebih lembut dan lembap. Sementara jika dihangatkan kembali, bagian cokelat di dalamnya akan meleleh. Kudapan ini juga direkomendasikan untuk dinikmati dengan cara dicelupkan ke dalam es krim.
Untuk aspek kepraktisan konsumen, manajemen mengubah format produk dari ukuran loyang besar 20×10 sentimeter menjadi potongan kecil siap makan (one bite size) yang dikemas secara individual. Perubahan format ini didasarkan pada masukan pelanggan yang menginginkan kemudahan konsumsi saat berada di dalam kendaraan tanpa mengotori tangan. Seiring dengan peningkatan mutu produk, kemasan luar dan logo juga diperbarui dengan ikon visual baru. Logo Manaree dirancang khusus oleh tim desainer grafis yang mengeksplorasi bentuk huruf Padang menjadi ikon menyerupai orang yang sedang menari.
Tantangan Edukasi Pasar dan Skala Produksi B2B
Meskipun memiliki potensi pasar yang besar karena jumlah kompetitor yang masih sedikit, edukasi pasar mengenai istilah makanan beku menjadi tantangan tersendiri bagi kategori produk pastry. Masyarakat Indonesia pada umumnya masih mengasosiasikan kata frozen dengan produk mentah yang harus melewati proses pengolahan ulang yang rumit sebelum bisa dikonsumsi.
“Ketika mendengar kata frozen, orang akan berpikir itu adalah sesuatu yang salah atau perlu diproses lagi. Mengedukasi tentang hal itu membutuhkan waktu, sehingga pada akhirnya orang tidak banyak memilih kata tersebut sebagai kata kunci,” ujar Ibu Ayang Agus mengenai kendala pemasaran yang dihadapi.
Selain fokus pada frozen brownies yang dapat dipesan mulai dari satuan satu boks via WhatsApp, Instagram, dan marketplace, Manaree Bakery didukung oleh keahlian Ibu Ayang Agus yang memiliki latar belakang pendidikan Teknik Elektro namun mendalami ilmu pastry di Bogasari Baking Center. Tiga produk unggulan lain yang diproduksi untuk memasok kebutuhan sektor perhotelan, restoran, dan kafe (Horeka) meliputi aneka varian roti, chewy cookies, serta aneka custom cake berbasis durian seperti Japanese cheesecake durian dan sponge roll durian yang telah diproduksi secara konsisten sejak tahun 2019.



