Tidak semua yang berlabel bakmi kota adalah bakmi non halal. Di Depok, ada satu nama yang baru saja hadir karena menghadirkan bakmi kota dengan pendekatan yang berbeda dari kebanyakan, sekaligus menegaskan bahwa produknya sepenuhnya halal.
Namanya Bakmi Kota Ko Boen, dijalankan oleh seorang penggemar bakmi yang akhirnya memutuskan untuk menjual apa yang ia cintai sejak kecil.
Apa Itu Bakmi Kota dan Apa Bedanya?

Bagi sebagian orang, bakmi ya bakmi. Tapi bagi yang sudah terbiasa makan bakmi kota, perbedaannya cukup terasa jelas. “Bakmi kota ini tuh berbeda. Teksturnya lebih kenyal, gurih, asin,” jelas Ko Boen.
Dibandingkan mie ayam Wonogiri atau mie ayam Solo yang cenderung manis dan bertekstur lebih lembek atau basah, bakmi kota punya karakter yang lebih kering dan kenyal. Tidak memakai jahe, dan tidak mengandalkan rasa manis sebagai kunci utamanya.
Perbedaannya dengan bakmi Bangka juga ada. Secara tekstur keduanya memang cukup mirip, namun bakmi Bangka biasanya menggunakan minyak bawang dan kecap khas dari Bangka. Sementara Ko Boen memilih jalur yang berbeda.
“Saya hanya menggunakan kecap lokal, tapi kita mempertahankan rasa dari minyak-minyak ayam. Dari saya itu yang aromatiknya itu yang kita pertahankan,” ungkapnya.
Minyak ayam inilah yang menjadi jiwa dari semangkuk Bakmi Kota Ko Boen. Tidak memakai minyak minyak wijen, hanya aroma khas minyak ayam yang dipertahankan sebagai identitas utama.
Resep yang Dikembangkan dari Warisan Sang Ibu
Bakmi Kota Ko Boen bukan lahir dari nol. Ko Boen mengembangkan resepnya dari usaha bakmi ibunya yang pernah berjalan sebelum pandemi di kawasan Pancoran, Glodok, Jakarta.
“Resep yang sekarang saya pakai itu adalah resep yang saya kembangkan dari mama saya. Jadi mulai dari minyaknya, mulai dari resep untuk daging ayamnya, ayam kecap dan lain-lain itu saya kembangkan sendiri dari usaha ini sendiri,” cerita Ko Boen.
Pandemi membuat usaha ibunya berhenti. Tapi resep dan pengetahuan soal rasa itu tidak ikut berhenti. Ko Boen melanjutkan, menyesuaikan, dan mengembangkannya menjadi versi miliknya sendiri dengan dua pilihan topping, ayam kecap dan ayam gurih.
Bakmi Kota Halal, Ditegaskan Langsung oleh Pemiliknya
Salah satu hal yang kerap menjadi pertanyaan ketika mendengar kata bakmi kota adalah soal kehalalannya. Ko Boen menjawab pertanyaan itu dengan tegas.
“Saya tidak mau mengomong sesuatu yang panjang, tapi saya juga seorang Muslim. Saya tidak makan makanan yang non-halal, tapi saya yakin banget bakmi saya seratus persen halal. Saya ngambil ayam juga dari tempat yang baik, bakmi tidak memakai formalin atau yang lain, jadi semuanya fresh, semuanya dari ciptaan tangan saya sendiri, dan insyaallah itu halal,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar klaim. Bagi Ko Boen, menjaga kualitas dan kehalalan bahan adalah bagian dari cara ia memandang usahanya secara keseluruhan.
Makanan Enak adalah Hak Semua Orang

Ada satu prinsip yang Ko Boen pegang dalam menjalankan Bakmi Kota Ko Boen, dan prinsip itu cukup sederhana namun bermakna.
“Menurut keyakinan saya, makanan enak itu adalah hak setiap manusia. Kadang-kadang kita bisa pergi ke tempat yang bagus tapi belum tentu makanannya enak. Ada juga yang tempatnya nggak bagus tapi makanannya enak. Kalau di saya, walaupun tempat saya nggak terlalu bagus tapi saya pastikan makanan saya enak,” ujarnya.
Prinsip itu juga tercermin dari keputusannya soal harga. Berada di kawasan dengan mayoritas pembeli dari kalangan menengah ke bawah, Ko Boen memilih mematok harga di kisaran dua puluh ribuan, dengan bahan-bahan yang ia sebut sendiri sebagai premium.
Bakmi yang Bisa Dimakan Setiap Hari
Ko Boen memilih bakmi bukan tanpa alasan. Di tengah kondisi ekonomi yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja, ia melihat bakmi sebagai jenis makanan yang tidak mengenal musim.
“Makanan itu setiap hari orang pasti makan. Bakmi itu adalah tipe makanan yang kayak nasi padang, kayak nasi uduk, yang setiap orang tiap hari bisa makan, besok makan lagi juga bisa,” katanya.
Bagi Ko Boen, memilih bisnis bakmi bukan hanya soal nostalgia atau warisan keluarga. Ini juga keputusan yang didasari oleh pemahaman sederhana namun kuat, bahwa selama orang butuh makan, selalu ada tempat untuk semangkuk bakmi yang enak dan jujur.
View this post on Instagram



