Home Savory & Sweet Mengenal Pada Soeka Bakery dan Produk Roti Gandum Panas Bogor

Mengenal Pada Soeka Bakery dan Produk Roti Gandum Panas Bogor

Di balik perumahan yang tenang di Bogor, ada sebuah bakery kecil yang menarik perhatian karena satu hal yang sederhana namun tidak banyak dilakukan orang lain, menghadirkan roti gandum yang lembut dan hangat.

Namanya Pada Soeka Bakery, dan ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah garasi rumah nenek bisa bertransformasi menjadi ruang produksi roti gandum yang punya identitas tersendiri.

Bukan Tepung Biasa?

Produk andalan Pada Soeka Bakery berdiri di atas dua fondasi utama, tepung gandum utuh dan sourdough. Sebuah kombinasi yang tidak umum di pasar roti lokal.

“Base-nya itu dari gandum, tepung gandum, sama dari sourdough. Jadi ragi kita masih pakai ragi yang instan, tapi kita setengah-setengah, jadi campuran antara sourdough dan ragi instan, dan kita memakai tepung gandum, jadi lebih banyak serat dibandingkan tepung yang biasa dipakai,” jelas Jesslin Wiliem, pemilik Pada Soeka Bakery.

Tepung gandum utuh memang berbeda dari tepung terigu putih biasa. Tepung terigu putih hanya menggunakan bagian endosperma biji gandum, sementara kulit ari dan lembaga dihilangkan selama proses penggilingan, sehingga kandungan serat dan nutrisinya jauh lebih rendah. Roti gandum bahkan mengandung protein 25% lebih banyak dibandingkan roti putih, yang membantu memperlambat pencernaan, menjaga massa otot, dan memberikan energi lebih lama.

Soal Tekstur, Ada Riset di Baliknya

Salah satu tantangan membuat roti gandum adalah teksturnya yang secara alami lebih padat dan seret dibanding roti biasa. Jesslin mengaku tidak begitu saja menerima keterbatasan itu.

“Sebenarnya enak-enak aja karena aku udah modifikasi, RnD waktu itu, supaya jadi kayak, walaupun tetap lebih seret ya daripada roti yang biasa, tapi aku udah coba berkali-kali supaya nanti pas dimakan walaupun dingin tetap masih lebih empuk,” ungkapnya.

Tujuannya jelas, ia ingin mengubah persepsi orang soal roti gandum yang selama ini identik dengan tekstur keras dan rasa yang monoton. “Pengen orang ngerasain kalau roti gandum tuh nggak cuman yang keras, bisa yang lembut juga, jadi nggak ngebosenin,” tambahnya.

Meski begitu, Jesslin tetap jujur bahwa roti gandum paling optimal dinikmati dalam kondisi hangat. “Kalau anget, iya lebih lembut gitu kalau dimakannya anget-anget.”

Melihat Tren, Menciptakan Inovasi Sendiri

Keputusan memilih roti gandum sebagai produk utama bukan sekadar mengikuti apa yang sedang ramai di pasaran. Pemiliknya justru melihat pergeseran tren lebih jauh dari itu.

“Sebenarnya gara-gara pengen bikin inovasi yang beda, kan, terus sama ngelihat orang sekarang lebih beralih ke healthy food, nah jadi aku juga pengen bikin yang roti yang lebih sehat, tapi nggak yang itu-itu aja,” katanya.

Dari Garasi Rumah Oma

Pada Soeka Bakery lahir bukan dari rencana besar yang matang. Jesslin, lulusan Le Cordon Bleu Melbourne, sempat mencoba penjualan online setelah kembali ke Indonesia pasca pandemi sebelum akhirnya beralih ke offline.

Tempat yang dipilih adalah garasi rumah sang oma yang sudah lama tidak terpakai. “Soalnya ini tempat yang ada, yang waktu itu available di sini doang. Nggak ada, dan lagian ini kan rumah yang nggak dipakai juga, kan udah lama nggak dipakai, rumah oma gitu kan, jadi gara-gara udah lama nggak dipakai, daripada dianggurin, aku ubah jadi toko dulu aja, di garasi depan kecil-kecilan gitu,” ceritanya.

Bukan konsep yang didesain dari awal untuk bernuansa rumahan. Lebih ke soal keterbatasan dan keberanian memulai dari apa yang ada.

Fokus Dulu, Ekspansi Kemudian

Untuk saat ini, Pada Soeka Bakery masih memilih untuk mengembangkan diri di tempat yang sama. “Untuk sekarang sih masih fokus untuk ini ya, ngembangin di sini dulu, untuk stabilin di sini dulu, terus kualitasnya juga masih mau dijaga dulu,” ujar Jesslin. Kemungkinan ekspansi ke depan tidak ditutup, tapi bukan prioritas yang sedang dikejar sekarang.

Di Bogor, di antara banyaknya pilihan roti dan kafe yang bermunculan, Pada Soeka Bakery memilih jalur yang lebih sunyi, konsisten, dan membiarkan produknya yang berbicara.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bake Media (@bake.co.id)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x