Lanskap kuliner di Jakarta tidak pernah kekurangan cerita unik dari para pelaku usaha yang mencoba mengenalkan cita rasa baru. Di tengah ramainya kafe bertema minimalis atau restoran cepat saji, sebuah tempat makan baru hadir dengan menawarkan konsep yang menyegarkan. Tempat ini mengambil bentuk diner, sebuah konsep warung makan kasual ala Amerika Serikat yang biasanya menjadi tempat singgah di sepanjang jalur komersial antar-negara bagian, namun menyajikan kuliner lintas negara yang memiliki satu kesamaan geografis, yakni wilayah-wilayah yang dikelilingi oleh padang pasir.
Ide ini diwujudkan lewat pendirian Dunes Diner, yang secara harfiah merujuk pada bukit pasir atau dunes. Makanan yang mereka tawarkan merupakan kompilasi dari comfort food yang biasa ditemui di kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat bagian barat, hingga Amerika Selatan. Salah satu menu andalan hidangan pencuci mulut yang mencuri perhatian para pemburu kuliner di ibu kota adalah hidangan manis bernama kunafa palestina dan chopped cheese yang disajikan secara otentik namun tetap ramah di lidah lokal.
Kunafa Palestina Hingga Chopped Cheese, Eksplorasi Cita Rasa Menu Andalan
Bagi sebagian besar masyarakat, menu hidangan manis khas Timur Tengah mungkin masih terasa asing. Namun, di tempat ini, sajian kunafa palestina digambarkan oleh sang owner Rimba dan Kezia sebagai martabak keju versi Arab. Komponen utamanya mengandalkan kataif, sejenis adonan filo pastry bertekstur sangat halus yang disusun berlapis-lapis. Di negara asalnya, menu ini sejatinya menggunakan keju Nablus. Guna menyiasati ketersediaan bahan baku lokal tanpa mengurangi kelezatan esensialnya, tim dapur memilih menggunakan keju mozarella yang mudah meleleh saat dipanggang di atas kompor. Begitu matang dan lapisan pastrinya mengeras garing, kudapan ini disiram dengan sirup khusus perpaduan gula cair, perasan lemon, serta air mawar (rose water) yang memberikan aroma wangi madu dengan sentuhan sedikit asam yang tidak terlalu manis pekat.
Selain hidangan pencuci mulut, menu makanan berat yang menjadi bintang utama adalah chopped cheese yang disajikand engan bun burger. Menurut Rimba dan Kezia, ini New York style banget. Hidangan ini berbeda dengan burger konvensional karena daging sapinya dicacah langsung di atas panggangan bersama taburan bumbu dan keju yang melimpah. Hasilnya, keju meleleh menyatu di dalam serat daging, memastikan sensasi gurih hadir di setiap gigitan hingga ke bagian dalam. Di Amerika Serikat sendiri, menu legendaris ini lazim dijajakan oleh para imigran asal Palestina dan Yordania yang mengelola toko kelontong atau bodega di sudut-sudut kota.
Sebagai pelengkap, Dunes Diner juga menyajikan Lebanese chicken yang dimasak menggunakan metode pengasapan ala Texas. Awalnya, dapur sempat bereksperimen menggunakan arang biasa (charcoal), namun ruangan kedai yang kecil justru membuat seluruh ruangan dipenuhi kabut asap tebal tepat sehari sebelum gerai dibuka. Mereka akhirnya memutar otak dan beralih ke metode smoke lambat memanfaatkan kayu rambutan untuk mengejar aroma sangit yang khas. Daging ayam dibumbui secara melimpah dengan Lebanese seven spices, sebuah kombinasi rempah otentik yang terdiri dari jintan (cumin), kayu manis, bubuk jahe, dan beberapa rempah lainnya hingga meresap sempurna.
View this post on Instagram
Membawa Pulang Memori Masa Kuliah dari Australia ke Jakarta
Lahirnya Dunes Diner merupakan buah dari perjalanan panjang dua orang yang dipertemukan saat menempuh pendidikan di sekolah perhotelan (culinary school) di Australia. Selama menetap di sana, mereka terbiasa mengonsumsi aneka hidangan ayam bakar dan hidangan rempah yang dijajakan oleh para imigran asal Lebanon dan Yordania sebagai makanan sehari-hari. Berawal dari latar belakang keahlian di bidang industri kopi, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk beralih fokus menjelajahi dunia kuliner setelah merasa jenuh dengan industri minuman.
Keputusan untuk kembali ke Indonesia dan membuka bisnis di Jakarta juga didorong oleh batas masa berlaku visa tempat tinggal mereka di Australia yang telah habis. Menyadari biaya modal operasional untuk membuka restoran mandiri di Australia bisa membengkak hingga sepuluh kali lipat, mereka memilih pulang ke tanah air untuk memperkuat pondasi merek ini terlebih dahulu.
“Memang bisa dibilang ini makanan sehari-hari kita waktu kuliah di Australia, banyak imigran Timur Tengah yang buka restoran ayam di sana sehingga menjadi comfort food kami. Setelah sepuluh tahun bekerja di F&B dan merasa mentok kalau hanya ikut orang, kami memutuskan pulang untuk membangun brand Duns Diner ini di Jakarta. Cita-citanya bukan cuma bertahan di Indonesia, kami ingin menjadikan ini sebagai batu loncatan untuk membawa brand lokal ini berkembang ke Australia dan banyak negara lain di masa depan,” cerita Kezia dan Rimba selaku pemilik usaha.
View this post on Instagram



