Home Savory & Sweet Ketika Roti Ala Jepang dan Sourdough Salt Bread Ala Korea Dijual Dalam...

Ketika Roti Ala Jepang dan Sourdough Salt Bread Ala Korea Dijual Dalam Satu Toko

Perkembangan industri F&B sering kali melahirkan kombinasi menu yang unik, bahkan menabrak batasan tradisi kuliner internasional demi melahirkan sebuah produk inovatif. Fenomena ini terlihat jelas pada sebuah dapur produksi panggangan di wilayah Depok, Jawa Barat yang menyajikan paduan menu yang sekilas terasa kontradiktif. Di satu sisi, mereka memproduksi Japanese bread yang terkenal dengan karakteristik tekstur sangat lembut, namun di sisi lain, mereka juga menjajakan sourdough salt bread yang adopsi menunya justru berakar dari tren kuliner modern Korea Selatan.

Perpaduan tersebut memicu daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Menyatukan pakem roti lembut khas Asia dengan karakteristik fermentasi alami ragi sourdough Barat yang cenderung padat dan beraroma khas merupakan sebuah tantangan teknis yang tidak sederhana. Namun, titik temu yang tidak biasa inilah yang justru dieksplorasi secara mendalam untuk menghasilkan panganan yang unik sekaligus bersahabat bagi kesehatan pencernaan.

Membedah Kontradiksi Shiopan Jepang dan Salt Bread Korea

Jika ditelusuri dari rekam jejak historisnya, terdapat benang merah sekaligus kontradiksi yang melekat pada varian sourdough salt bread. Menu roti asin dengan guratan mentega di dalamnya ini sebenarnya lahir pertama kali di Jepang dengan nama asli shiopan atau salted bread. Karakteristik asli versi Jepang ini umumnya memiliki bentuk yang lebih memanjang, bertekstur padat, serta tidak memiliki rongga kosong di bagian dalamnya.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini justru jauh lebih akrab dengan nama salt bread yang dipopulerkan oleh Korea Selatan. Lonjakan popularitas roti asin tersebut meledak di pasar domestik karena masifnya pengaruh budaya K-Pop serta unggahan estetik para kreator konten Seoul di berbagai media sosial. Di Korea Selatan, roti asin mengalami evolusi bentuk menjadi agak membulat besar, dengan tekstur luar yang dibuat jauh lebih garing (crispy crunchy), serta memiliki rongga udara kosong yang kentara di bagian tengah akibat proses melelehnya mentega saat dipanggang.

Menyatukan konsep kelembutan roti Jepang dan rongga garing ala Korea ke dalam satu adonan berbasis ragi alami menuntut ketelitian tinggi. Roti Korea yang identik dengan rongga kosong harus berpadu dengan adonan sourdough yang secara alami berkarakteristik padat karena melewati proses fermentasi panjang semalaman atau overnight.

“Karakteristik tekstur salt bread yang sebenarnya itu adalah keras di luar atau crispy crunchy, tetapi dia tetap lembut di dalam dan memiliki rongga di dalamnya,” tutur Wahyu Wibowo selaku pemilik saat menjelaskan anatomi produknya.

Rekam Jejak Pemilik Dari Divisi Keuangan Hingga Badai Pandemi

Keberanian dalam mengeksplorasi menu yang kontradiktif ini tidak lepas dari latar belakang perjalanan hidup sang pemilik. Sebelum terjun sepenuhnya ke dalam dunia panggangan, Wahyu Wibowo merupakan seorang profesional yang telah meniti karier selama kurang lebih lima belas tahun di sektor perhotelan (hospitality). Rekam jejak panjang tersebut tidak dihabiskan di dalam dapur sebagai juru masak, melainkan di balik meja kerja sebagai staf pada divisi keuangan (finance).

Keputusan besar untuk melepaskan status karyawan dan beralih menjadi pengusaha mandiri membawa dinamika perjuangan yang cukup terjal. Jauh sebelum menekuni bisnis roti sehat ini, beliau sempat mendirikan usaha kuliner ayam geprek yang tumbuh subur sebelum masa pandemi. Namun, badai krisis global akibat pandemi memaksa gerai ayam geprek tersebut untuk gulung tikar. Di tengah situasi sulit itu, Wahyu Wibowo mulai memutar otak untuk mencari model bisnis makanan apa yang tidak akan lekang oleh waktu dan selalu dibutuhkan oleh masyarakat dalam jangka panjang. Pilihan itu akhirnya jatuh pada industri bakery. Beliau pun rela melakukan perjalanan ke Bandung dan beberapa kota lain demi mengikuti berbagai kursus baking intensif guna menguasai teknik pembuatan adonan yang konsisten.

Solusi Kesehatan Pencernaan Melalui Fermentasi Alami

Kembalinya Wahyu Wibowo ke industri F&B kali ini didasari oleh sebuah visi yang kuat mengenai kesehatan pencernaan atau gut health. Beliau secara personal memiliki sensitivitas tinggi terhadap produk roti komersial yang banyak beredar di pasaran, yang sering kali memicu efek perut kembung, begah, dan asam lambung akibat penggunaan ragi instan serta bahan kimia pemutih yang berlebihan.

Keresahan pribadi itulah yang mendorong dapur produksi ini untuk fokus mendalami metode fermentasi alami menggunakan levain atau biang starter alami. Komitmen tanpa bahan pengawet diterapkan secara ketat, di mana ketahanan roti manis mereka murni hanya mengandalkan unsur gula alami sebagai pengawet organik yang mampu bertahan hingga lima hari di suhu ruang.

“Kami benar-benar mencoba mendalami metode sourdough yang menggunakan ragi alami dengan tujuan agar produk kami semakin lebih ramah cerna, sehingga banyak orang bisa makan roti dengan tenang,” jelas Wahyu Wibowo.

Kini, melalui kombinasi antara kelembutan Japanese bread, keunikan rongga salt bread Korea, serta jaminan kesehatan dari metode sourdough Barat, unit usaha ini tidak hanya sukses menyajikan kuliner yang memanjakan lidah. Di bawah arahan Wahyu Wibowo, sourdough salt bread Depok telah menjelma menjadi sebuah solusi pangan sehat yang edukatif, bahkan mereka kini aktif membagikan seluruh resep komersialnya secara transparan melalui program baking class bagi masyarakat luas yang ingin memulai bisnis serupa.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bake Media (@bake.co.id)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x