Peluang bisnis kuliner sering kali lahir dari rutinitas harian di dalam rumah tangga. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, gorengan sudah menjadi jenis camilan wajib yang dikonsumsi hampir setiap hari. Fenomena inilah yang ditangkap sebagai peluang usaha rumahan yang kemudian berkembang pesat menjadi sebuah pusat produksi skala besar atau dikenal sebagai pabrik risol bogor dengan nama merek Risolaku.
Usaha kuliner ini dirintis pertama kali pada tahun 2008 oleh sang pemilik, Winery Nissasuci. Pada masa awal, keputusan untuk memproduksi risoles didasari oleh alasan sederhana, yaitu membuatkan bekal sekolah untuk ketiga anaknya karena pihak sekolah melarang siswa membawa uang jajan. Mengingat anak-anaknya sangat menyukai gorengan, Winery Nissasuci memanfaatkan risoles sebagai media untuk memasukkan berbagai nutrisi penting seperti karbohidrat, susu, telur, sosis, ayam, hingga daging asap yang dicampur dengan mayones.
Perjalanan Nabung untuk Modal Naik Haji dan Membeli Mesin Produksi
Meskipun Winery Nissasuci mengaku tidak menempuh jalur pendidikan yang sangat tinggi, ia memiliki kemauan yang kuat untuk terus belajar. Bakat berbisnisnya sudah terasah sejak duduk di bangku SMA dengan berjualan donat ke teman-teman sekolah, yang kemudian berlanjut ke usaha menjahit pakaian muslim setelah lulus sekolah. Akibat keterbatasan waktu dalam mengurus anak ketiganya, ia akhirnya memilih berhenti menjahit dan beralih fokus membangun bisnis risoles dari rumah.
Melalui konsistensi penjualan Risolaku, Winery Nissasuci berhasil mengumpulkan modal untuk berangkat ibadah haji. Hebatnya, seluruh biaya keberangkatan tersebut murni didapatkan dari hasil penjualan risoles dalam kurun waktu kurang dari enam bulan tabungan intensif.
Seiring dengan meningkatnya permintaan pasar yang sangat tajam selama masa pandemi, kapasitas tenaga kerja manual di dapur produksinya mulai menemui batas maksimal. Demi mengembangkan bisnis tanpa harus memperluas area bangunan dapur secara berlebihan, pabrik risol bogor ini memutuskan untuk beralih ke sistem mekanisasi. Setelah menabung selama dua tahun, Winery Nissasuci mengimpor langsung mesin pencetak kulit risoles dari China untuk memotong biaya distribusi yang mahal di pasar lokal.
Tantangan Teknis Peralihan Metode Manual ke Mesin Otomatis
Proses transisi dari sistem produksi manual tangan ke penggunaan mesin otomatis ternyata tidak berjalan dengan mudah. Manajemen harus melewati masa uji coba formula adonan kulit selama empat hingga enam bulan. Karakteristik ketebalan, komposisi bahan baku, tingkat suhu panas, hingga kecepatan putaran mesin membutuhkan kalkulasi yang sangat berbeda jauh dari metode pembuatan manual.
Selama masa uji coba tersebut, risiko kerugian modal akibat kegagalan adonan tidak dapat dihindari. Setiap hari, minimal 10 kilogram tepung terigu terbuang hanya dalam waktu 10 menit karena kecepatan kerja mesin. Bahkan, konsumsi bahan baku untuk uji coba sempat menyentuh angka 50 kilogram tepung per hari, belum termasuk penggunaan telur, susu, mentega, dan bumbu dapur lainnya.
“Saya membeli mesin bukan berdasarkan keinginan, tetapi berdasarkan kebutuhan. Ketika kita memiliki keinginan, hal itu harus sejalan dengan kebutuhan agar kita tidak patah semangat saat menghadapi kegagalan,” ujar Winery Nissasuci selaku owner saat mengenang masa-masa sulit uji coba mesinnya.
Winery Nissasuci menegaskan bahwa penerapan teknologi mesin di dalam pabrik risol bogor miliknya bukan bertujuan untuk memangkas atau menggantikan peran tenaga kerja manusia. Keberadaan mesin ini justru diaplikasikan untuk memaksimalkan kapasitas produksi serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman bagi para karyawan karena suhu ruangan produksi tidak lagi terasa panas seperti ruang spa.
Perubahan Sistem Kerja dan Fokus Model Bisnis B2B
Titik balik krusial dalam perjalanan bisnis Risolaku terjadi pada tahun 2023 hingga 2024. Penerapan sistem konveyor baru di lini penggulungan risoles sempat memicu penolakan dan resistensi dari para karyawan lama yang telah bekerja bersamanya selama 10 hingga 15 tahun. Karena para pekerja lama belum siap untuk mengikuti adaptasi sistem mekanisasi modern, Winery Nissasuci terpaksa melakukan peremajaan tim dengan merekrut karyawan baru yang mampu mengikuti ritme kerja mesin.
Untuk menjaga efisiensi produksi dan mencegah terjadinya kesalahan varian isi produk, pabrik ini menerapkan aturan ketat berupa pembuatan satu varian menu saja per hari. Jika terpaksa memproduksi dua varian dalam sehari seperti kombinasi ayam dan daging asap, perbedaan kedua produk tersebut harus dapat terlihat secara fisik agar tidak membingungkan pekerja di bagian pengemasan.
Sejak awal berdiri, Risolaku memfokuskan model bisnisnya pada sektor business to business (B2B) dengan memasok produk dalam kondisi beku ke berbagai toko frozen food, pasar modern, hingga para ibu rumah tangga yang ingin menjadi pelopor agen reseller di lingkungan rumah mereka. Melalui prinsip bahwa rasa adalah kualitas nomor satu, pabrik risol bogor ini kini mampu mencatatkan kapasitas produksi minimum sebesar 4.200 pieces kulit risoles per jam dari total kapasitas maksimal cold storage yang mencapai lima ton.


