Cake Picnic: Festival Kue di San Francisco dengan Aturan Unik “No Cake, No Entry”

festival kue
Foto: Camille Cohen.

Pada suatu Sabtu cerah di San Francisco, lebih dari seribu pecinta kue berkumpul di halaman indah museum Legion of Honor. Mereka semua datang ke sebuah festival kue dengan satu hal penting: kue utuh yang mereka bawa.

Ini bukan acara biasa, tapi ini adalah Cake Picnic!

Sebuah festival yang merayakan cinta terhadap kue dalam segala bentuknya, dengan satu aturan utama: No Cake, No Entry.

Berawal dari Piknik Kecil, Jadi Fenomena Nasional

Elisa Sunga, pemrakarsa cake picnic.

Cake Picnic dimulai dari ide sederhana seorang home baker bernama Elisa Sunga. Pada April 2024, ia mengundang 15 orang untuk piknik sambil berbagi kue di taman.

Tak disangka, antusiasme terhadap ide ini menyebar cepat. Hanya beberapa bulan kemudian, acara ini menjelma jadi festival berskala besar dengan lebih dari 1.000 peserta dan 1.387 kue yang dipamerkan dan disantap bersama. Tiketnya bahkan terjual habis dalam hitungan detik.

Suasana Festival Kue yang Meriah, dari Pameran Kue hingga Cicip Rasa

festival kue
Foto: SFGATE.

Peserta yang datang membawa kue mereka sendiri, baik itu chiffon dan butter cake, hingga kreasi unik seperti kue dinosaurus buatan anak kecil.

Semua kue ditata di meja-meja panjang, dan sebelum mulai mencicipi, pengunjung diberi waktu untuk mengagumi dan memotret karya masing-masing.

Setelah sambutan dari Sunga, sesi mencicipi dimulai secara bergiliran berdasarkan warna name tag. Suasana menjadi semarak! Semua orang bebas mengambil potongan kue sebanyak yang mereka mau, saling berbagi, dan bertukar cerita soal resep dan proses membuatnya.

Kue sebagai Bentuk Seni dan Koneksi

Festival ini bertepatan dengan pameran seni “Wayne Thiebaud: Art Comes from Art”, sebagai penghormatan untuk sang seniman yang terkenal lewat lukisan-lukisan kue.

Di sinilah Cake Picnic benar-benar terasa seperti perayaan. Kue itu bukan hanya rasa, tapi juga seni, komunitas, dan kebersamaan.

Di akhir acara, semua kue ludes dan tidak ada satu potong pun yang terbuang. Sebab peserta diminta untuk membawa pulang potongan kue untuk dinikmati lagi bersama keluarga atau teman. Dengan demikian yang tersisa hanyalah remah-remah dan kenangan manis.

Serunya ya! Bagaimana jika acara seperti ini diadakan di Indonesia? Bagaimana menurut Anda?

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments